Tuesday, 4 March 2014

Penentuan akurasi melalui uji perolehan kembali (Recovery test, %R)

Ditulis Oleh : cak war | Anwar Hadi
Seringkali pengujian analit dalam suatu sampel tidak langsung diukur dengan peralatan instrumentasi namun dilakukan preparasi yang meliputi antara lain pelarutan, distilasi, destruksi atau ekstraksi. Agar hasil pengujian mempunyai akurasi tinggi maka efisiensi pelarutan, distilasi, destruksi atau ekstrasi terhadap analit tersebut harus memiliki efisiensi 100%. Dengan efisiensi 100% maka dapat dipastikan bahwa tidak ada penambahan analit karena kontaminasi atau hilangnya analit karena penguapan, adsorpsi atau absopsi selama proses preparasi sampel.

Untuk mengecek efisiensi proses pretreatment dan preparasi tersebut maka dilakukan uji perolehan kembali (recovey test, %R) yang dirumuskan sebagai berikut:

Untuk memberikan pengaruh yang nyata terhadap evaluasi akurasi melalui uji perolehan kembali maka konsentrasi akhir sampel setelah ditambahkan analit dari larutan standar (spike) berkisar antara 2 – 5 dari kali konsentrasi sampel sebelum ditambahkan analit. Namun demikian, perlu dipertimbangkan bahwa nilai konsentrasi sampel yang telah ditambahkan analit tidak boleh melebihi batas rentang kerja tertinggi pada ruang lingkup metode pengujian yang digunakan. Dengan kata lain, konsentrasi sampel yang telah ditambahkan analit harus masuk dalam regresi linear kurva kalibrasi yang digunakan.

Sedangkan analit yang ditambahkan ke sampel harus memiliki sifat-sifat, antara lain:
1)      larutan standar yang ditambahakan ke sampel (spike) memiliki kemurnian tinggi;
2)      memiliki matrik hampir sama dengan sampel; dan
3)      memilki kelarutan hampir sama dengan sampel.

Selain itu, hal yang harus dipertimbangkan adalah analit yang ditambahkan ke sampel berbentuk padatan bila memungkinkan atau larutan yang sangat pekat. Hal ini dimaksudkan agar tidak merubah matrik sampel serta menghindari pengenceran yang dapat mempengaruhi konsentrasi sampel. Sehubungan dengan hal tersebut maka volume analit yang ditambahkan ke sampel tidak boleh melebihi 2%. Bila memungkinkan direkomendasikan berkisar antara 0,01% sampai 0,1% dari volume sampel yang disyaratkan dalam metode pengujian yang digunakan. Bila penambahan analit menimbulkan kekeruhan (turbidity) maka penambahan analit ke sampel harus diulang dengan menurunkan konsentrasi atau memperbanyak volume dengan tetap menghindari terjadinya pengenceran sampel yang berlebih.

Berikut ini contoh perhitungan uji perolehan kembali untuk penentuan kadar seng (Zn) dalam air limbah dan diperoleh hasil sebagai berikut:
Secara teoritis, penambahan konsentrasi larutan spike harus dihitung terlebih dulu berdasarkan rerata konsentrasi sampel yang diperoleh yaitu 229 μg/L. Bila penambahan volume spike ke dalam volume sampel adalah 1% maka volume spike 1 mL dimasukkan ke dalam 99 mL volume sampel. Untuk mendapatkan nilai konsentrasi spike maka harus diperkirakan dengan perhitungan, sebagai berikut:
 

Cspike = 27.329 µg/L ≈ 30.000 µg/L = 30 mg/L

Sehubungan nilai konsentrasi spike telah diperkirakan, maka volume sampel 99 mL ditambahan analit 1 mL dengan konsentrasi 30.000 μg/L. Sampel yang telah ditambahkan analit tersebut diuji sesuai dengan tahapan prosedur pengujian Zn dan diperoleh hasil 523 μg/L.

Untuk mendapatkan nilai uji perolehan kembali (%R), maka hitung kadar spike dalam sampel dengan gunakan rumus sebagai berikut:
         
Dengan demikian, %R dapat dihitung sebagai berikut:
          
Rekaman setiap hasil uji perolehan kembali (%R) dan nilai konsentrasi spike yang ditambahkan kedalam sampel harus dipelihara. Rekaman tersebut dapat digunakan sebagai dasar penentuan perkiraan nilai konsentrasi spike yang harus ditambahkan kedalam sampel rutin yang memiliki matrik yang sama.

Jika batasan keberterimaan uji perolehan kembali (%R) tidak ditentukan dalam metode pengujian yang digunakan atau bagan kendali (control chart) belum ditentukan oleh laboratorium, maka sebagai batasan awal (starting point) dapat dilakukan berdasarkan Tabel 2, dibawah ini:
 
Sebagai ilustrasi, dari contoh tersebut diatas diketahui bahwa nilai konsentrasi target adalah 523 μg/L atau setara 0,5 mg/L. Dengan demikian batasan %R yang diperkenankan sesuai Tabel 2 tersebut diatas diperkirakan 80% - 110%. Sedangkan menurut hasil perhitungan sesungguhnya %R diperoleh 98%. Hal ini berarti bahwa uji perolehan kembali untuk Zn dalam air limbah tersebut memiliki akurasi yang sangat baik.



9 komentar:

  1. Assalamualaikum Cak,

    Sungguh materi yang bikin saya gagal paham nih,.. boleh saya bertanya bila datanya berkelompok apakah dapat ditentukan batasan %R nya ? kalau boleh tahu darimana sumber pustaka nya ? Hatur nuhun pisan.

    ReplyDelete
  2. Wass.Wr.wb.,

    Mba Dina, penentuan %R tidak gunakan data berkelompok, namun dihitung secara individual data. Intinya saat kita menambahkan analit (spike) ke sampel maka berapa perolehan kembalinya (%Recoverynya)dihitung sebagaimana dalam tulisan saya tersebut. Berbagai literatur metode pengujian kimia air (kimia lingkungan) selalu menginformasikan batasan %R. Lihat metode pengujian Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk air dan air limbah terbitan tahun 2009-2011. Literatur lain standard method for waste and wastewater APHA edisi 22. Makasih

    ReplyDelete
  3. Kalau menghitung %R tanpa adanya penanbahan analit gimna? Sy sdg mneguji metode baru dmn sy lakukan sbnyk 10 kali. Hsil analisa ash dlm 1 gram batubara berupa hasil %. Yg sy mau tanyakan bagaimana sy menetapkan rande batasan recoverynya

    ReplyDelete
  4. Assalamualaikum. Sy mau tanya menghitung %recovey tanpa adanya penambahan analit. Sy sdg mrnguji pengembangan metode. Menghitung hasil ash dlm 1 grm batubara sy lakukan sbnyk 10 kali. Dan yg sy mau tanyakan bagaimana cara mengetahui range recoverynya jika dlhasilnya dlm persen. Trims

    ReplyDelete
  5. Wass.wr.wb.,

    Mba Anisa, secara definisi akurasi dapat diartikan sebagai kedekatan suatu hasil pengujian atau rerata hasil pengujian dengan nilai yang sebenarnya. Dengan demikian, jika tanpa menambahan analit ke dalam sampel maka %R dapat ditentukan dengan memperlakukan certified reference material (CRM) atau in-house reference material (IRM) sebagaimana sampel. CRM (IRM) yang telah memiliki nilai benar tersebut dianalisis sesuai tahapan pengujian dan %R dihitung sebagai berikut:

    %R = (hasil pengujian : nilai benar CRM) x 100%

    ReplyDelete
  6. Assalamu'alaikum Cak, maaf saya mau tanya,
    menyambung dari pertanyaan di atas,
    kalau saya akan mengganti metode yang sekarang sedang digunakan, dan saya sudah melakukan perbandingan 2 metode uji, dan saya sudah punya %R-nya, tapi 2 metode tersebut setelah dibandingkan ternyata beda nyata, apa saya bisa menggunakan faktor koreksi untuk metode yang baru ? bagaimana cara menghitung faktor koreksi untuk metode baru tsb ? mohon bantuan-nya Cak, terima kasih

    ReplyDelete
  7. assallamualaikum wr.wb.
    kalau untuk bidang mikrobiologi seperti apa ya cara perhitungan % R nya. terimakasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepengetahuan saya, perhitungan %R pada pengujian secara mikrobiologi berbeda dengan cara kimia. Uji akurasi di mikrobiologi dilakukan dengan cara uji konfirmasi. Misalnya, saat kita menguji E.coli maka dilanjutkan dengan uji konfirmasi dengan membandingkan E.Coli tersertifikasi. Cara lain saat menentukan pengujian bentos, akurasi dilakukan dengan pengamatan oleh 2 orang ahlinya. Makasih

      Delete
  8. Perbandingan 2 metode yang beda nyata sulit dilakukan koreksi. Mba Anastasia harus menggunakan metode lain sebagai perbandingan agar dapat diketahui korelasi hubungan antara kedua metode tersebut. Adapun caranya sebagai berikut:
    1) lakukan pengujian CRM/larutan standar/sampel dengan berbagai kadar yang berbeda menggunakan 2 metode yang berbeda secara prinsip (misal, spektrofotometer vs AAS)
    2) plot kadar yang dihasilkan dalam kurva (sumbu X untuk metode 1 dan sumbu Y untuk metode 2)
    3) buat persamaan regresi linear dan tentukan koefisien korelasi minimal 0.995
    4) jika kita menguji sampel dengan metode 1, maka hasil tersebut dapat dimasukkan kedalam persamaan regresi linear, maka kita dapatkan korelasi ke metode 2.

    Selamat mencoba dan sukses selalu.....

    ReplyDelete

 
Copyright © . infolabling Anwar Hadi - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger