Saturday, 19 April 2014

Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) pengambilan sampel lingkungan

Ditulis Oleh : cak war | Anwar Hadi
Keselamatan dan kesehatan kerja petugas pengambil sampel merupakan faktor yang harus dipertimbangkan saat pengambilan sampel lingkungan di lakukan. Karena itu, setiap petugas pengambil sampel diharuskan memahami keselamatan dan kesehatan kerja yang baik dan benar. Berikut ini hal-hal yang perlu diperhatikan saat pengambilan sampel lingkungan, yaitu:

1)  Identifikasi sumber-sumber bahaya dan resiko pengambilan sampel
Sumber-sumber bahaya dan resiko harus diidentifikasi dan didokumentasikan saat menyusun perencanaan pengambilan sampel. Berikut ini beberapa pertanyaan yang dapat membantu untuk mengidentifikasi sumber-sumber bahaya dan resiko pengambilan sampel:
a)   dapatkah petugas pengambil sampel mencapai lokasi dan titik pengambilan sampel dengan aman?
b)   adakah fasilitas yang tersedia sehingga sampel diambil dengan aman?
c)  apakah petugas pengambil sampel mengalami pemaparan bahan beracun dan berbahaya saat mengambil sampel?
d)   peralatan keselamatan dan kesehatan kerja apa yang harus digunakan saat mengambil sampel?
e) pada lokasi pengambil sampel, apakah petugas pengambil sampel dapat terhindar dari hewan yang membahayakan, misalnya nyamuk malaria, laba-laba, ular, buaya dan lain sebagainya?

Selain pertimbangan hal-hal tersebut diatas, petugas pengambil sampel harus mengidentifikasi sumber-sumber kecelakaan yang dapat berasal dari, antara lain:
a)  bahaya bahan kimia
apabila digunakan bahan kimia sebagai bahan pengawetan sampel, maka petugas pengambil sampel harus dapat mengidentifikasi beberapa bahan kimia yang dapat menimbulkan bahaya, antara lain:
i.    asam kuat (misalnya H2SO4(p); HCl(p); HNO3(p)), basa kuat (misalnya NaOH, KOH) yang dapat menyebabkan iritasi;
ii.  bahan organik (asam asetat) dapat menyebabkan terjadinya keracunan, iritasi tenggorokkan dan saluran pernafasan;
b) bahaya kecelakaan peralatan yang dapat terjadi, misalnya luka terkena pecahan alat gelas saat jatuh atau terkena sengatan listrik pada kabel peralatan instrumen yang terkelupas;
c)  bahaya lain yang dapat terjadi karena kesalahan sendiri, seperti: bahaya saat menggunakan peralatan runcing/tajam, terpeleset karena licin, dan lain sebagainya.

Apabila sumber-sumber bahaya dan resiko telah teridentifikasi maka tindakan pencegahan harus dilakukan agar kecelakaan dapat dihindari. Sehubungan dengan hal tersebut, petugas pengambil sampel harus menggunakan peralatan keselamatan dan kesehatan kerja yang diperlukan. Peralatan keselamatan dan kesehatan kerja tersebut harus dipelihara dan diuji kelaikannya secara periodik. Selain peralatan keselamatan dan kesehatan kerja, petugas pengambil sampel harus membawa kotak P-3K yang berisi obat-obatan, desinfektan, pelunak racun, salep dan lain sebagainya. Apabila terjadi kecelakaan saat pengambilan sampel, maka tindakan penyelamatan harus segera dilakukan.

2) Peralatan keselamatan dan kesehatan kerja pengambilan sampel
Peralatan keselamatan dan kesehatan kerja saat pengambilan sampel merupakan hal yang mutlak diperlukan. Peralatan keselamatan dan kesehatan kerja mencakup beberapa hal diantaranya:
a)   pakaian dan sepatu bot
    pakaian lengan panjang yang digunakan saat pengambilan sampel lingkungan disesuaikan dengan situasi dan kondisi di lapangan, namun tetap menjaga kenyamanan sehingga tidak menggangu kegiatan yang dilakukan. Apabila diperlukan, sepatu bot dengan sol khusus anti-selip serta tahan asam digunakan saat pengambilan sampel air limbah maupun emisi cerobong industri;
b)   helm
    dalam keadaan khusus, helm sangat diperlukan saat pengambilan sampel lingkungan. Helm biasanya dibuat dengan bahan yang cukup bagus, namun hal yang penting adalah memastikannya agar dipasang dengan baik dan diikat secara kuat. Untuk kenyamanan pemakaian, maka disarankan untuk tetap memeriksa ikatannya dari waktu ke waktu;
c)    sarung tangan
    suatu hal yang tidak menyenangkan apabila tangan merasakan basah saat pengambilan sampel air limbah dilakukan. Untuk itu, penggunaan sarung tangan karet baik sepanjang pergelangan tangan maupun sepanjang siku harus dipakai saat pengambilan sampel. Hal ini diperlukan bukan saja untuk alasan kenyamanan melainkan juga untuk kesehatan seperti menghindari penyakit kulit yang mungkin terjadi atau bahan-bahan berbahaya;
d)   masker gas dan debu
     pada situasi dan kondisi khusus, misalnya pengambilan sampel udara ambien saat ada kebakaran hutan, masker gas atau debu harus digunakan oleh petugas pengambil sampel. Beberapa masker gas memiliki cartridge yang dirancang untuk perlindungan terhadap gas asam maupun gas alkali. Sedangkan masker kain sederhana tidak dapat memberikan perlindungan terhadap gas beracun. Oleh sebab itu, pemilihan masker harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang dihadapi;
e)   pelindung telinga
     saat pengambilan sampel emisi cerobong industri, penggunaan pelindung telinga harus digunakan oleh petugas pengambil sampel untuk mengurangi kebisingan yang dialami petugas;
f)     pertolongan pertama pada kecelakaan (P3-K)
    pertolongan pertama pada kecelakaan merupakan “perlindungan paling akhir” yang harus digunakan. Dengan menggunakannya, berarti bahwa semua langkah-langkah perlindungan lainnya telah gagal. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, maka petugas  pengambilan  sampel  harus membawa kotak P3-K. Kotak P3-K disarankan memiliki daftar isi yang tertulis dan harus diperiksa isinya agar cocok dengan daftarnya. Selain itu, perlu juga dilakukan pemeriksaan tanggal kedaluarsa terhadap obat-obatan yang ada di dalamnya.

Sebagaimana diketahui bahwa pengambilan sampel lingkungan mempunyai resiko atau bahaya ketika dilakukan di sungai yang cukup besar, di laut, atau pada cerobong pabrik. Dengan demikian, disamping peralatan keselamatan dan kesehatan kerja yang harus dipakai saat pengambilan sampel dilakukan, seorang petugas pengambil sampel lingkungan harus dilengkapi asuransi jiwa yang memadai. Ini diperlukan untuk memberikan rasa aman dan percaya diri bagi petugas pengambil sampel dalam melaksanakan tugasnya.

3)  Minimisasi bahaya dan resiko
Untuk meminimisasi bahaya dan resiko saat pengambilan sampel dilakukan, maka hal-hal yang harus dipertimbangkan antara lain:
a)  seluruh petugas pengambilan sampel harus mendapatkan pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja yang memadai;
b) apabila lokasi pengambilan sampel membutuhkan perjalanan dengan kendaraan yang relatif jauh, maka usahakan dapat istirahat minimal 15 menit setiap 3 jam;
c)    pilih lokasi aman untuk menuju titik pengambilan sampel, karena itu sebaiknya dilakukan survey pendahuluan setelah petugas pengambilan sampel menentukan lokasi pengambilan sampel dari peta yang tersedia. Selain itu, dapatkan informasi sedetail mungkin tentang lokasi tersebut sehingga dapat terhindar dari binatang bahaya maupun tanaman beracun;
d)   gunakan pakaian yang sesuai untuk pengambilan sampel termasuk help/topi, kaca mata sun-screen dan sepatu anti-slip. Bila diperlukan bawa pakaian cadangan dan handuk untuk antisipasi jika pakaian yang digunakan basah atau jatuh ke dalam air. Untuk pengambilan sampel air yang dalam atau air laut, gunakan jaket pelampung;
e)   hindari kontak dengan air yang terkontaminasi dan selalu gunakan sarung tangan karet saat pengambilan sampel air limbah atau limbah beracun dan berbahaya. Segera cuci tangan sesaat setelah pengambilan sampel dilakukan;
f)   jangan pernah melakukan pengambilan sampel seorang diri dan usahakan dapat berkomunikasi dengan orang lain yang dapat membantu jika terjadi kecelakaan, karena itu bawa handphone. Selain itu, bawa peta dan kompas serta global positioning system (GPS), apabila diperlukan;
g) minimisasi kerusakan atau pencemaran lingkungan saat pengambilan sampel dilakukan. Apabila limbah dihasilkan saat pengambilan sampel, maka kumpulkan dan pisahkan dalam wadah yang sesuai dengan mencantumkan label serta bawa kembali ke laboratorium untuk dilakukan pengelolaan limbah yang memadai.
 

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © . infolabling Anwar Hadi - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger