Verifikasi
Kurva Kalibrasi (calibration verification standard)
Verifikasi kurva kalibrasi standar (calibration verification standard, CVS) bertujuan
untuk identifikasi kestabilan instrumen yang digunakan dan kemiringan (slope) kurva kalibrasi. CVS dilakukan
dengan menggunakan bahan acuan bersertifikat (certified reference material, CRM) dan nilai konsentrasi yang
diperoleh dari perhitungan kurva kalibrasi awal seharusnya masuk kedalam nilai
rentang ketidakpastian yang tertera dalam setifikat CRM.
Jika CRM sulit ditemukan dipasaran maka dapat menggunakan konsentrasi tengah deret larutan kerja dan nilai prosentase deviasi ≤ 10% atau perolehan kembali (recovery, %R) adalah 100% ± 10%. Dalam hal ini konsentrasi tengah deret larutan kerja harus bersifat independen, yang berarti bahwa larutan tersebut dibuat oleh analis lain atau menggunakan bahan kimia dari pemasok yang berbeda atau dibuat oleh analis yang sama namun berbeda waktu pembuatannya. Bila nilai prosentase perolehan kembali melebih batas keberterimaan maka segera mungkin pengujian dihentikan dan bila perlu kurva kalibrasi awal dibuat ulang.
Untuk peralatan instrumentasi kimia yang
dilengkapi dengan perangkat komputer dan mampu menyimpan kurva kalibrasi awal, maka analis laboratorium
dapat memanggil kurva kalibrasi awal tersebut untuk pengujian sampel di waktu
berikutnya. Bila hal ini dilakukan maka sebelum kurva kalibrasi tersebut
digunakan untuk menghitung konsentrasi analit dalam sampel uji, maka harus dilakukan
CVS. Dengan melakukan CVS terhadap kurva kalibrasi yang tersimpan dalam
instrumentasi, maka analis laboratorium tidak perlu membuat kurva kalibrasi lagi setiap
akan melakukan pengujian sampel. Dengan memverifikasi kurva kalibrasi yang
tersedia,
maka kerja analis lebih dimudahkan dapat mengurangi paparan bahan kimia dan
limbah laboratorium.
Bila pengujian sampel dilakukan secara berkelompok
(batch), maka sampel tersebut harus memiliki matrik hampir
sama dengan menggunakan bahan kimia dan metode pengujian yang sama serta
dilakukan secara berurutan. CVS dilakukan secara periodik setiap frekuensi 5% -
10% dan setelah sampel akhir diuji. Berikut ini merupakan prosedur yang dapat diikuti,
jika pengujian dilakukan berkelompok:
1) buat kurva kalibrasi awal dan pastikan bahwa kurva
kalibrasi yang diperoleh memenuhi batas keberterimaan secara kimia analitik dan
statistika (r ≤ 0,995 dan a ≤ MDL);
2) lakukan pemeriksaan nilai tengah kurva kalibrasi (continuing calibration standard, CCS)
dan pastikan bahwa deviasi maksimum ≤ 10% atau %R = 100% ± 10%;
3) ukur sampel uji termasuk blako reagen (reagent blank), spike dan duplikat. Pengujian blanko untuk kontrol kontaminan
selama proses pengujian dan nilai blako yang diperoleh harus kurang dari limit
deteksi metode (method detection limit,
MDL). Pengujian spike untuk kontrol
akurasi sedangkan pengujian duplikat untuk kontrol presisi. Nilai akurasi dan
presisi yang diperoleh harus memenuhi batas keberterimaan yang secara umum pada
kadar ppm dapat dinyatakan %R = 100%
± 15% dan %RPD ≤ 10%;
4) setelah pengujian sampel dilakukan maka ulangi prosedur
CVS dan pastikan bahwa memenuhi batas keberterimaan;
5) jika CVS tidak memenuhi batas keberterimaan maka
proses pengujian harus dihentikan dan lakukan tindakan perbaikan, diantaranya
periksa kestabilan instrumen dan buat kurva kalibrasi baru jika perlu.
Pak mau tanya, bagaimana cara memeriksa kestabilan instrumen (aas) kami telah membuat kurva awal (Fe) tetapi setelah dilakukan pembacaan ulang untuk batas atas dan bawah kurva absorbansinya berbada dengan absorbansi kurva awal, terima kasih
ReplyDeleteIdealnya, sebelum pengujian menggunakan AAS, maka dilakukan uji kinerja terhadap AAS melalui wavelength accuracy dan absorption sensitivity. Prosedur dan hasil uji kinerja tersebut harus memenuhi kriteria batas keberterimaan yang sangat tergantung dari instruksi manual dari pabrik pembuat peralatan. Makasih
Delete